Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2015

RUMAH YANG TERBELAH

            

LELAKI tua itu masuk ke dalam rumahnya dengan langkah tergesa.
            Dibantingnya daun pintu. Dari balik kaca jendela ia kemudian memandang penuh benci kepada lelaki muda yang duduk sambil merokok dan menikmati kopi di balkon seberang rumahnya. Cuih. Ia yakin perempuan tua itu yang menyuruh lelaki muda duduk di sana, supaya terlihat olehnya dan merasakan hidupnya semakin hancur.
            Ia tahu, perempuan tua itu tengah bersolek di kamarnya. Sebentar lagi mereka akan pergi bersenang-senang entah ke mana. Mungkin ke sebuah vila atau di kamar hotel pinggiran kota. Dasar sundal, gumamnya. Lelaki tua duduk menyandarkan punggungnya di kursi. Rambut tipisnya yang berantakan membuat ia makin tampak letih. Sakit di tengkuk dan lututnya belakangan makin sering datang dan menyiksanya.
            Di rumah ini ia tinggal sendiri. Pembantunya hanya datang pagi untuk menyapu, mengepel, mencuci baju, dan mengganti air di jambangan bunga. Selebihnya tinggal dan menjaga di rumah perempuan tua itu. Rumah yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah lelaki tua hanya dipisahkan halaman dan rumpun bambu kuning sebagai pagar pembatas dan membagi taman menjadi dua, meski sisi kanan kedua bangunan kembali disatukan oleh pintu gerbang yang sama. Tak ada yang menyita pikirannya sekarang, kecuali putri bungsu kesayangannya dan perempuan tua itu.
            Rumah yang ditempati lelaki tua memang bagian dari rumah perempuan tua itu. Keduanya dulu pasangan suami istri yang serasi, sama-sama sukses mengelola usaha penerbitan majalah.
            Namun justru karena itulah keduanya tak pernah berada di rumah dalam waktu bersamaan. Hal yang kemudian diikuti anak-anak mereka. Jim si sulung dan Margareth si tengah sudah keluar dari rumah ini, membawa keluarga masing-masing ke kota lain, mungkin juga negara lain. Sebagaimana Jim, hanya sekali Margareth berkunjung setelah pernikahan mereka yang digelar dengan megah. Waktu itu hubungannya dengan perempuan tua belum seburuk sekarang.
            Sejak pernikahan kedua kakaknya, si bungsu Ciara, yang tiba-tiba datang membawa masalah, ikut-ikutan meninggalkan rumah. Tak pulang-pulang kecuali sekadar mengambil buku dan baju. Jim dan Margareth kabarnya telah memberinya cucu. Lelaki tua menghela napas berat. Ia tak ingin menyalahkan mereka yang abai pada dirinya. Sejak awal ia berpikir bahwa anak-anak memiliki hidup mereka sendiri. Mestinya termasuk garis hidup yang kini dilakoni Ciara. Tapi ternyata tidak mudah.
***
            Lelaki tua segera menghapus lamunannya dan kembali menunggu adegan yang dipertontonkan perempuan tua dan lelaki muda itu berikutnya. Benar saja, tak lama kemudian perempuan tua muncul di balkon dan menghampiri lelaki muda, meminta komentarnya tentang gaun yang dikenakan dengan lagak manja gadis remaja seperti yang sudah dihafal lelaki tua itu.
            Perempuan tua berputar layaknya model di panggung peragaan busana, sembari cekikikan. Sementara lelaki muda memandanginya serius, lantas memberi komentar. Perempuan tua mengenakan gaun warna biru dengan belahan dada rendah, sepatu hak tinggi berwarna senada.
            Adegan itu sangat menghancurkan perasaan lelaki tua. Namun anehnya ia terus memperhatikan setiap gerak-gerik mereka seakan rasa nyeri yang ditimbulkannya memberi kenikmatan tersendiri. Sekarang lelaki muda bangkit dari duduknya, lalu masuk ke dalam untuk kemudian muncul kembali membawa cawan anggur untuk perempuan tua yang terlihat terus sibuk mematut-matut diri. Ia meraih cawan yang disodorkan lelaki muda, sebelum meminumnya bersama-sama mereka melakukan toast, diiringi suara tawa yang makin terdengar menusuk di telinga lelaki tua.
            “Tingkah mereka keterlaluan,“ dengus lelaki tua. Ia bangkit dari kursi dan berjalan mondar-mandir seperti orang linglung. Kepalanya berdenyut menahan ledakan kemarahan. Sejak dari sanggar tadi ia berniat mendatangi perempuan tua itu untuk mengajaknya bicara perihal putri bungsu kesayangan mereka yang telah membuat pengakuan, dan membuatnya terpukul dan sedih. Sejak mendengar pengakuan putrinya, ia berencana segera mengajak bicara perempuan tua itu. Ia merasa tidak dapat menyimpan kesedihan sendirian. Tak mungkin rasanya ia membagi kesedihan yang satu ini dengan kawan-kawan terdekatnya sekalipun. Mereka hanya bisa diajak bicara tentang seni, politik, filsafat, dan omong kosong lainnya, tapi tidak tentang putri bungsunya.
            Hanya dengan perempuan tua itu ia harus bicara, karena ia menganggap perempuan tua itu musabab seluruh kesedihan ini. Namun, lelaki tua tidak tahu bagaimana cara mengajak perempuan tua itu bicara. Bahkan untuk meneleponnya, ia seolah kehilangan cara. Ia takut harga dirinya jatuh dan perempuan tua itu makin merasa di atas angin. Lelaki tua mengingat-ingat kapan terakhir kali ia melakukannya. Ah, mungkin sepuluh tahun lalu.
            Perempuan tua dan lelaki muda itu masih duduk di balkon. Meneruskan minum anggur sembari ngobrol ngalor ngidul tanpa topik yang jelas. Tentu saja tak perlu topik karena mereka mengobrol bukan untuk keperluan apa pun selain menyakiti lelaki tua itu. Sekali waktu perempuan tua mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki muda seperti mau menciumnya, berbisik-bisik entah apa, lalu tertawa. Sesekali ekor matanya melirik ke rumah lelaki tua yang pintunya tertutup rapat.
            Lelaki tua masih menahan diri. Ia telah berpikir keras, namun semuanya buntu. Harapan bahwa perempuan tua itu lebih dulu mendatangi dan mengajaknya bicara sama sekali tak ada. Ia bergerak ke ruang tengah, menjangkau sebotol wiski dari minibar untuk melumuri tenggorokannya yang kering. Ia minum perlahan-lahan seraya berharap keajaiban datang. Saat berpikir seperti itu, dilihatnya perempuan tua dan lelaki muda beranjak dari balkon. Mereka turun menuju garasi mobil.
            “Kenapa kamu memilih warna ungu?“ ujar lelaki muda seraya meraih kunci mobil dari genggaman perempuan tua. Lelaki muda membuka pintu mobil dan menyalakan mesin, sementara perempuan tua masih merapikan rambut dan memeriksa tas tangannya. Pada saat itulah lelaki tua keluar dari rumah, berjalan menyeberangi taman menuju pintu gerbang utama, lantas menutup kembali pintu gerbang yang telah dibuka oleh pembantunya, menguncinya dengan gembok berbeda.
            Perempuan tua memalingkan wajahnya ke arah lelaki tua, seakan melihat sesuatu yang memuakkan.
            “Morgan, apa yang kamu lakukan?“
            “Kau pikir apa yang kulakukan?“ sahut lelaki tua itu.
            “Hei, ada apa denganmu? Kamu sedang mabuk?“
            “Marce, aku ingin bicara,“ kata lelaki tua.
            Perempuan tua tersenyum sinis. Memalingkan wajahnya ke rumpun bambu kuning yang daun-daunnya berkesiur ditiup angin sore.
            “Morgan, buka pintunya! Bukankah kita sudah sepakat tidak saling mencampuri urusan masing-masing?“ tukas perempuan tua.
            “Marce, suruh pulang pelacur itu, kita harus bicara,“ suara lelaki tua terdengar bergetar.
            “Morgan, apa yang kamu inginkan?“
            “Kita harus bicara.“
            “Morgan, ada apa denganmu? Kita sudah tak lagi punya urusan apa-apa!“
            “Ini bukan tentang urusan kita, tapi tentang Ciara.“
            “Kamu terkejut dan malu dengan pengakuan Ciara?“
            Lelaki tua memandang tajam mata perempuan tua. Tapi yang dipandang tetap terlihat tenang dengan senyum sinis yang tak surut dari bibirnya. Lelaki itu tahu betapa dirinya kini kalah telak. Ia betul-betul terlihat tolol seperti badut di taman hiburan. Harga dirinya terempas dan mustahil dapat dikembalikan. Namun, lelaki tua masih berupaya bertahan dengan susah payah supaya tidak benar-benar jatuh tersungkur dan diinjak-injak perempuan tua itu.
            “Tak perlu sentimentil seperti itu, Morgan,“ kata perempuan tua kalem dan meremehkan, “Urus saja hidupmu yang tak berguna itu.“
            “Kamu pikir hidupmu lebih berguna dari tikus-tikus got itu?“
            “Apa pedulimu dengan hidupku? Lekas serahkan kuncinya,“ tukas perempuan tua dengan sikap pongah yang makin tak terduga oleh lelaki tua, “Aku tak punya waktu berdebat dan membicarakan apa pun denganmu.“
            Lelaki tua bergeming. Ketika perempuan tua hendak merenggut kunci dari tangannya, dengan cepat ia melemparnya ke kolam, lantas bergegas meninggalkan perempuan tua dengan harga diri turut terpelanting ke dasar kolam. Lelaki tua tak bernyali lagi memandang perempuan tua itu, ia berdiri tegak penuh kemenangan. Menggandeng laki-laki muda, perempuan tua kemudian keluar lewat pintu lain, dan menelepon taksi.
***
            Saat lelaki tua hendak membanting tubuhnya ke sofa, telepon selulernya bergetar. Dari Ciara. Tapi keberaniannya telah raib. Menjelang tengah malam, barulah ia menekan tombol kotak suara: “Papi, kami besok ke Belanda. Kami akan menikah di sana. Minta restunya.“
            Sejujurnya lelaki tua mungkin tak benar-benar merasa terpukul dan mau memberikan restu jika saja pasangan putri bungsunya itu bukan mantan kekasih yang masih ia cintai.

https://lakonhidup.wordpress.com/2013/05/26/rumah-yang-terbelah/#more-4078

Selasa, 24 Maret 2015

Separuh Dari Satu Yang Utuh


Langit malam yang tadinya hitam kelam, kini memerah, yang sepertinya menandakan pertukaran malam menjadi pagi. Langkah jarum jam seakan terdengar begitu keras pada malam menjelang pagi itu. Yang kemudian mengusik dan mengganggu ku. Seperti ingin memberi tahu kalau,
“Sebentar lagi langkahku akan berhenti pada angka 4, tapi kenapa matamu masih menatap langit yang memiliki 3 kotak vertikal dan 4 kotak horizontal yang di sekitarnya tak ada hal yang sepertinya begitu menarik untuk dilihat. Tak ada bulan atau bintang di langit itu, hanya seekor laba-laba tua dengan sarangnya yang tampak begitu tebal. Bukan hal menarik yang mungkin bisa membuatmu terjaga hingga pagi. Hahahaha…”
Aku seperti merasa mendengar semua ocehan dan cemoohan mereka, lalu aku seakan berargumen dengan mereka,
“Apa pedulimu jam dinding?, mengapa kau tidak diam saja dan melakukan tugas mu untuk menjalankan waktu agar tetap berputar. Dan kau laba-laba tua, kenapa kau terus memandangiku dengan matamu yang banyak itu, kenapa kau tidak mengurus urusan mu sendiri, atau mungkin kau lebih baik mengganti sarangmu yang sudah tampak lusuh”
Lalu dengan lantang sepertinya laba-laba itu berkata padaku
“Memang kamu itu siapa untuk aku perhatikan, jangan salahkan mataku yang lebih dari satu, bukan berarti aku selalu memperhatikanmu, aku punya banyak hal untuk aku lakukan dari sekedar memperhatikan mu. Atau lebih baik dari sekedar memikirkan seorang  pria di luar sana yang mungkin tidak sedang memikirkanmu, atau bahkan sedang tertawa senang entah dengan siapa”
Sindirannya begitu tajam menusukku. Cemoohannya begitu membodohkanku. Lalu dengan nada yang tak mau kalah, aku kembali bersuara pada mereka.
“Memangnya kalian yang hanya binatang dan benda mati tahu apa tentang hati, tahu apa tentang cinta. Ini bukan hal yang mudah!”
“Jika kamu sadar kalau ini bukan hal yang mudah, kenapa tidak menjadi egois saja dan biarkan cinta itu berakhir di tengah jalan, atau kebingungan di persimpangan”
“Kalian memang tidak akan pernah tahu. Jika saja cinta itu mudah, panglima tian feng mungkin tak harus reinkarnasi hingga ribuan kali untuk menemukan sejatinya. Mungkin romeo juga tak harus mati karena meminum racunnya, seperti halnya jack dawson yang terkubur di dasar atlantis demi menjaga hangatnya. Atau mungkin Davey Jones yang harus mencabut jantungnya sendiri dan menempatkannya dalam peti untuk janji abadinya”
Kemudian tak ada lagi suara yang terdengar untuk beberapa saat hingga akhirnya suara musik yang begitu keras mengejutkanku.
“Katakan pada mama, cinta bukan hanya harta dan tahta dan pastikan pada semua, hanya cinta yang sejukkan dunia”.
Suara itu terdengar seperti lagu yang sering ku dengar. Tapi dari mana datangnya?, suaranya begitu keras, sepertinya begitu dekat. Aku membuka pintu, berlari ke jalan mencari suara itu. Tapi tak ada suara apapun di luar. Lalu aku kembali masuk ke dalam, dan lagi suara itu masih keras terdengar. Entah gila atau sinting, tapi aku melihat dewa bernyanyi di kamarku. Mereka hanya sebuah poster di balik pintu.
“Aku sudah gila…” . bicaraku pada diri sendiri.
“Kamu belum gila kawan, dan kamu gak perlu takut. Cinta tak begitu sulit, juga tak harus selalu tentangmateri”
Suaranya terdengar besar dan berat, dan aku tahu kalau itu suaranya Ahmad Dhani yang berbicara kepadaku.
“Tapi itu kan lagu dari album yang lama, apa kau tahu kalau keturunan Siti Nur Baya yang sekarang jauh berbeda dari moyangnya, mereka tak lagi mencintai hasan basri, mereka lebih cinta pada yang pasti. Yang pasti mapan, yang pasti tampan. Dan tak bisa dibohongi, bahkan seorang penyanyi yang bernyanyi hanya dengan 3 kata untuk keseluruhan lagunya juga tau, kalau cinta juga perlu materi, dan sudah pasti, tanpa perlu survey lagi, kalau 11 dari 10 wanita pasti setuju akan hal itu. aku seperti merasa apa yang terasa, ketika rasa yang telah lama dikecap kini kian memudar, seperti hambar. Menunggu yang sudah pasti berlalu atau menanti yang tak kunjung pasti”.
Lalu botol-botol yang tadinya penuh kini menjadi kosong setelah ku tenggak, seperti ingin ikut bercerita.
“Sudahlah. Non sense itu semua. Buat apa kamu merasakan yang sudah pudar dan hambar. Kamu tidak perlu menanti yang tidak pasti, mari ikut denganku, kita nikmati malam ini”
“Lalu apa sebenarnya yang ada?, ketika yang dinanti bukanlah pasti, yang terasa hanya asa yang tak ter-asah, ternyata mimpi yang tak pernah mampir dan bayang yang tak lagi datang.
Lalu apa yang sebenarnya ada?, yang tersisa hanya kiasan pada kertas-kertas lusuh tak ber-tuan, yang bercerita pada bayang dan mimpi yang sedang menanti hal yang tak pasti”.
 “Ada apa denganmu?”
Suara yang kembali membuatku berpikir kalau aku mungkin sudah gila.
“Aku disini, di atasmu”
Ternyata semut-semut di bawah genting membentuk subuah tanda tanya. Dengan mengabaikan semua pemikiran tentang aku yang mungkin sudah mulai gila, aku bercerita padanya.
“Cinta, kemana dia bawa pergi hatiku?, aku hanya berharap dia tidak terlalu jauh, yang akhirnya membuatnya jenuh, dan kemudian meninggalkan hatiku sendiri, tak tersentuh”.
“Memangnya cintamu ada dimana?
“Aku juga tidak tahu. Aku hanya tahu tentang perbedaan yang akhirnya membuat kami jauh”
“Banyak rasa yang sebenarnya sama jika saja kalian manusia mau sedikit merasa. Dengan tidak hanya melihat warna kulit dan harum buahnya. Sama seperti perbedaan yang kalian miliki, yang jika terlihat, sungguh begitu beragam. Tapi jika saja kalian mau merasa, ternyata banyak rasa yang sama, bahkan ketika kalian sedang menelan perbedaan”
“itu dia yang membuat aku tidak mengerti. Aku seperti dihadapkan pada sebuah rangkaian puzzle raksasa bermotif hati yang telah tersusun dan kemudian dibongkar, mungkin sudah puluhan kali dilakukan. Hingga pada satu saat yang mungkin kesekian ratus kalinya, aku merasa sepertinya ada bagian yang bukan pada tempatnya, atau bisa jadi hilang.
Meski tak lelah terus mencari dan mencoba menempatkannya kembali, tapi tetap saja kelihatannya lain, tak seperti yang biasa dilakukan hingga ratusan kali. Hingga pada satu titik dimana kamu merasa sepertinya ini sudah cukup, mungkin hanya bosan dengan ini, ingin sesuatu yang lain. Dan akhinya membiarkan puzzle itu menjadi susunan yang bingung dan tak berujung”.
“Mungkin memang harus seperti itu kawan. Mungkin memang harus ditinggalkan dan biarkan menjadi rangkaian susunan yang tak berujung”
“Tapi kenapa harus seperti ini?, apa yang salah?,siapa yang harus disalahkan?”
“Tak ada yang salah dan harus disalahkan. Ini sama seperti bunga yang ingin mekar, mengizinkan kumbang dan angin menghisap dan menebar putiknya, untuk menjadi sempurna pada waktunya. Lalu siapa yang nantinya harus disalahkan jika bunga gugur sebelum berkembang?. apa kumbang yang berlebih menghisap sarinya?, atau angin yang terlalu jauh menebarnya?. coba jawab tanya itu”
Otakku seperti memberi perintah pada mulutku untuk menjawab tanya itu, tapi sepertinya aku tak mampu. Lalu tanyaku kembali pada kepulan asap yang keluar dari mulutku.
“Hal apa yang mampu membuat kita begitu bersedih?. apa saat kita melihat malaikat yang tak bisa terbang karena sayapnya yang patah, apa cinta yang gugur sebelum berkembang. Atau ketika malaikat pantas untuk mati, haruskah kita menangis untuknya”.

“Bersedih dan menangislah saat kau tahu tak ada lagi cinta dihatimu. Bahkan jika itu hanya cinta untuk membenci. Lalu, masih adakah cinta di hatimu?”
“Aku tak lagi tahu. Hanya berharap pada waktu, memohon untuk tidak segera berlalu, dan memutar kembali yang lalu, di saat yang sama aku berkata janji pada bunga untuk tidak membiarkannya gugur sebelum berkembang, dan melarang angin untuk bertiup terlalu kencang agar tak membuat sarinya terbang menghilang, dan sempurna saat berkembang.”
Mungkin benar apa yang dikatakan jam dinding tadi kepadaku, kenapa aku tidak menjadi egois saja, menjadi angkuh dalam ringkihnya cintaku yang sepertinya masih haus akan pelukan dan sanjungan. Tapi sekuat tenaga akan ku coba menepis semua lirik lagu yang dia mainkan untukku. Aku akan melangkah sombong di antara pengemis-pengemis hati yang lapar akan kasih, sementara aku sedang membohongi diri sendiri bahwa aku masih mencari cinta yang ingin memberi”
Ketika aku begitu senang membicarakan tentang ego ku. Tiba-tiba aku dibentak, sangat menghentak karena ego yang coba memanipulasi pikiranku, untuk menjadikan ini sebagai kemenanganku sendiri. Dengan keterpaksaan kebahagiaan yang dengan segala cara coba untuk dipalsukan agar semua terlihat seakan abadi.

Yang ternyata bentakan itu adalah suaraku sendiri, tapi tidak dari mulutku.
“Hey. Ada apa denganmu yang merupakan wujud nyata dari aku. Kenapa kau biarkan ego meracuniku, aku hampir sekarat dalam tubuhmu karena ego yang kau biarkan menyerangku. Ada apa denganmu, dulu kita tak seperti ini!”
“Hey kamu yang merupakan wujud tidak nyata dari aku. kali ini beri aku maaf yang lebih besar dari tempat cintaku bersandar. Salahkan aku akan segalanya. Beri aku makian akan kemunafikan tentang semua hal yang begitu ku inginkan. Lalu biarkan aku pergi, tersudut dan terdampar. Karena aku bahkan tak pantas memungut cinta yang terpapar. meski harus menggerutu dan menggigit lidahku, semua tak akan kembali seperti dulu. Dan jika pagi nanti cintaku kembali kesini, tolong sampaikan maafku akan seribu rasa yang hambar di tambah seribu warna yang pudar dan seribu janji yang ingkar. Tapi sampaikan juga padanya, bahwa hati yang dibawanya, akan abadi untuk cinta”
Setelah 3 jam pertengkarannya dengan semua benda mati yang dijadikannya hidup, kini pagi pun kembali bersama cinta dan separuh hatinya yang sudah mati. Cinta pun menangis dengan menggenggam separuh hati yang akan abadi.
Cerpen Karangan: Arif Leon (dengan sedikit perubahan)
cerpenmu.com

OKAERINASAI
 

Copyright © Midorima Shintarou. Template created by Volverene from Templates Block
lasik surgery new york and cpa website solutions
WP theme by WP Themes Expert